MAKALAH
KEPERAWATAN KOMUNITAS III
“ASUHAN
KEPERAWATAN PADA LANSIA DALAM MENGHADAPI KEMATIAN“
Oleh:
kelompok 6
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA
JOMBANG
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Seorang
perawatan professional dalam merawat lanjut usia yang tidak ada harapan
mempunyai ketrampilan yang multi komplek. sesuai dengan peran yang dimiliki,
perawatan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan
klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan-perasaan hidup dan mati.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada
lanjut usia yang sedang menghadapi sakarotul maut tidaklah selamanya muda,
klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi
yang berbeda –beda, bergantung kepada kepribadian dan cara klien lanjut
usia menghadapi hidup. tetapi bagaimanapun keadaan, situasi dan kondisinya
perawat harus dapat menguasai keadaan terutama terhadap keluarga klien lanjut
usia. Biasanya, anggota keluarga dalam keadaan krisis ini memerlukan perhatian
perawatan karena kematian pada seseorang dapat datang dengan berbagai cara,
dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat pula berlangsung berhari-hari. kadang
–kadang sebelum ajal tiba klien lanjut usia ke hilangan kesadarannya terlebih
dahulu.
Pentingnya
bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan
bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian
kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu dibutuhkan dokter dan
terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan spritual pasien. Karena peran perawat
yang konfrehensif tersebut pasien senantiasa mendudukan perawat dalam tugas
mulia mengantarkan pasien diakhir hayatnya dan perawat juga dapat bertindak
sebagai fasilisator (memfasilitasi) agar pasien tetap melakukan yang terbaik
seoptimal mungkin sesuai dengan kondisinya. Namun peran spiritual ini sering
kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek spiritual ini sangat penting
terutama untuk pasien terminal yang didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan
mendekati sakaratul maut.
Menurut
Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang
sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan
krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu
mendapatkan perhatian khusus”.
1. Rumusan
Masalah
1 Bagaimanakah konsep dasar kematian?
2. Bagaimanakah konsep asuhan
keperawatan pasien terminal dan menjelang ajal?
3. Bagaimanakah aplikasinya dalam
kasus?
2. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas III
2.
Agar mahasiswa mampu memahami dan membuat Asuhan Keperawatan Lansia
menjelang ajal atau kematian .
b. Tujuan Khusus
1. Mengenal kosep dasar kematian.
2. Melakukan asuhan keperawatan lansia menjelang ajal.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep lansia .
2.1.1 Definisi
Usia lanjut
dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Budi
Anna Keliat, 1999 dalam Buku Siti Maryam, dkk, 2008). Sedangkan menurut Pasal 1
ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia
lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. (R. Siti
Maryam, dkk, 2008: 32)
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari
proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap
individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik
secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan
kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari
proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan
di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan
tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka
harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial,
serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut
kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak
(Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua
adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan
fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana
di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan
reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan
kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut,
kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap
menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri
dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965 adalah
seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri
untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi,
2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia
(lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun
(Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu
kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses
penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam
mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek
biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998).
2.1.2 Penggolongan lansia
Sedangkan
menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pengertian lansia digolongkan menjadi
4, yaitu:
1.
Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
2.
Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
3.
Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
4.
Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
2.1.3 Ciri-ciri
Lansia.
Menurut
Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa ciri-ciri orang lanjut
usia,yaitu:
a. Usia lanjut merupakan periode
kemunduran
Kemunduran
pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis.
Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang
penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat
apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang
kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Orang lanjut usia memiliki
status kelompok minoritas
Lansia
memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang
tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh
pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu
seperti: lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya dari pada
mendengarkan pendapat orang lain.
c. Menua membutuhkan perubahan
peran
Perubahan
peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala
hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan
sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
d. Penyesuaian yang buruk pada
lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia
membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu
membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.
2.2 Konsep kematian.
2.2.1 Pengertian kematian .
Kematian adalah penghentian permanen
semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari kehidupan manusia(Buku Ajar
Keperawatan Gerontik : 435).
Pengertian kematian / mati adalah
apabila seseorang tidak teraba lagi denyut nadinya tidak bernafas selama
beberapa menit dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan
otak.(Nugroho: 153).
2.2.2 Penyebab kematian
1. Penyakit.
a. Keganasan (karsinoma hati, paru, mamae).
b. CVD (cerebrovascular disaese).
c. CRF (chronic renal failure (gagal ginjal) ).
d. Diabetes melitus (gangguan endokrin).
e. MCI (myocard infarct (gangguan kardiovaskuler) ).
f. COPD (chronic obstruction pulmonary disaese)
2. Kecelakaan (hematoma epidural).
2.2.3 Ciri atau tanda klien lanjut usia
menjelang kematian
1. Gerakan dan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur. Biasanya
dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki
2. Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung hidungnya
3. Kulit tampak pucat
4. Denyut nadi mulai tak teratur
5. Tekanan darah menurun
6. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
7. Pernafasan cepat dangkal dan tidak teratur.
2.2.3 Tanda –tanda meninggal secara klinis.
Secara
tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui
perubahan-perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun 1968, World
Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu
:
1.
Tidak ada
respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
2.
Tidak adanya
gerak dari otot, khususnya pernafasan.
3.
Tidak ada
reflek.
4.
Gambaran
mendatar pada EKG.
2.2.4 Tahap Kematian
Tahap –
tahap ini tidak selamanya bruntutan secara tetapi dapat saling tindih.
Kadang–kadang klien lanjut usia melalui suatu tahap tertentu untuk kemudian
kembali ketahap itu. Lama setiap tahap dapt bervariasi, mulai dari beberapa jam
sampai beberapa bulan. Apabila tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa
timbul kesan seolah – olah klien lanjut usia melompati satu tahap, kecuali jika
perawat memperhatikan seksama dan cermat.(Nugroho:2008)
1. Tahap Pertama ( Penolakan )
Tahap
ini adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasany, sikap itu ditandai dengan
komentar “saya?tidak, itu tidak mungkin”. Selama tahap ini klien lanjut usia
sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang, kecuali dirinya. Klien
lanjut usia biasanya terpengaruh oleh sikap penolakannya sehingga ia tidak
memerhatikan fakta yang mungkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat. Ia
bahkan menekan apa yg telah ia dengar atau mungkin akan meminta pertolongan
dari berbagai macam sumber profesional dan nonprofesional dalam upaya melarikan
diri dari kenyataan bahwa mau sudah diambang pintu.
2. Tahap kedua (marah)
tahap
ini ditandai oleh rasa marah dan emosi tidak terkendali. Klien lanjut usia itu
berkata “mengapa saya? ” sering kali klien lanjut usia akan selalu mencela
setiap orang dalam segala hal. Ia mudah marah terhadap perawat dan petugas
kesehatan lainya tentang apa yang mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut
usia lebih menganggap hal ini merupakan hikmah, daripada kutukan. Kemarahan
disini merupakan mekanisme perthanan diri klien lanjut usia. Akan tetapi,
kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dankehidupan. Pada saat
ini, perawat kesehatan harus berhati – hati dalam memberi penilaian sebagai
reaksi yang normal terhadap kemtian yang perlu diungkapkan.
3. Tahap ketiga (tawar – menawar )
Pada
tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata , “ya, benar aku,
tapi...” kemarahan biasnya mereda dan klien lanjut usia biasanya dapat
menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Akan tetapi, pada tahap tawar menawar ini banyak orang cenderung untuk
menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sebelum mau tiba, dan akan menyiapkan
beberpa hal, misalnya klien lanjut usia mempunyai permintaan terkhir untuk
melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat cucu terkecil, atau
makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi permohonan itu karena membantu
klien lanjut usia memasuki tahap berikutnya.
4. Tahap keempat (sedih/ depresi )
Pada
tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata “ya, benar aku”
hal ini biasanya merupakan saat yang menyedihkan karena lanjut usia sedang
dalam suaana berkabung. Di masa lampau, ia sudah kehilangan orang yang
dicintainya dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Bersamaan dengan
itu, dia harus meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah dinikmatinya.
Selam tahap ini, klien lanjut usia cenderung tidak banyak bicara dan sering
menangis. Saatnya perawat duduk dengan tenang disamping klien lanjut usia yang
melalui masa sedihnya sebelum meninggal
5. Tahap kelima (menerima/ asertif)
Tahap
ini ditandai oleh sikap menerima kematian.menjelang saat ini, klien lanjut usia
telah membereskan segala urusan ysng belum selesesai dan mungkin tidak ingin
berbicara lagi karena sudah menyatakan segala sesuatunya. Tawar menawar sudah
lewat dan tibalah saat kedamaian dan ketenangan. Seseorang mungkin saja lama
ada dalam tahap menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang berarti kekalahan .
Dengan kata lain pasrah terhadap maut tidak berarti menerima maut.
2.2.5 Pengaruh Kematian
1. Pengaruh kematian terhadap keluarga
klien lanjut usia :
a. Bersikap kritis terhadap cara
perawatan.
b. Keluarga dapat menerima kondisinya.
c. Terputusnya komunikasi dengan orang
yang menjelang maut.
d. Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa sedih.
e. Pengalihan tanggung jawab dan beban
ekonomi.
f. Keluarga menolak diagnosis.
Penolakan tersebut dapat memperbesar beban emosi keluarga.
g. Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan.
2. Pengaruh kematian terhadap tetangga
/ teman :
a. Simpati dan dukungan moril.
b. Meremehkan / mencela kemampuan tim kesehatan
2.2.6 Pemenuhan kebutuhan klien menjelang
kematian :
a.
Kebutuhan
jasmani.
Kemampuan toleransi terhadap rasa
sakit berbeda pada setiap orang. Tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi
klien lanjut usia ( mis., sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik, dan
sebagainya ).
b. Kebutuhan fisisologis.
a) Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kerbersihan diri sebatas
kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut, mulut, badan dan sebagainya.
b) Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada klien dengan
sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg. Pemberian obat ini diberikan sesuai
dengan tingkat toleransi nyeri yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik
diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular atau Subcutan, karena
kondisi system sirkulasi sudah menurun.
c) Membebaskan Jalan Nafas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih baik dan
pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk membebaskan jalan nafas,
sedangkan bagi klien yang tida sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan
dipasang drainase dari mulut dan pemberian oksigen.
d) Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk bergerak,
seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur untuk mencegah decubitus
dan dilakukan secara periodik, jika diperlukan dapat digunakan alat untuk
menyokong tubuh klien, karena tonus otot sudah menurun.
e) Nutrisi
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan peristaltik.
Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea dan merangsang nafsu makan
serta pemberian makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi
tonus otot yang berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji reflek
menelan klien sebelum diberikan makanan, kalau perlu diberikan makanan cair
atau Intra Vena atau Invus.
f) Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat terjadi
konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu diberikan untuk
mencegah konstipasi. Klien dengan inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot
secara teratur atau dipasang duk yang diganjti setiap saat atau dilakukan
kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar perineum, apabila
terjadi lecet, harus diberikan salep.
g) Perubahan Sensori
Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien biasanya menolak
atau menghadapkan kepala kearah lampu atau tempat terang. Klien masih dapat
mendengar, tetapi tidak dapat atau mampu merespon, perawat dan keluarga harus
bicara dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
c.
Kebutuhan
emosi.
Untuk menggambarkan ungkapan sikap
dan perasaan klien lanjut usiadalam menghadapi kematian.
a) Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat ( ketakutan
yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tidak mampu mencegah kematian ).
b) Mengkaji hal yang diinginkan penderita selama mendampinginya. Misalnya,
lanjut usia ingin memperbincangkan tentang kehidupan di masa lalu dan kemudian
hari. Bila pembicaraan tersebut berkenaan, luangkan waktu sejenak.
c) Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien.
d. Kebutuhan sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan
diruang isolasi, dan untuk memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat
melakukan:
a)
Menanyakan
siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk bertemu dengan klien dan
didiskusikan dengan keluarganya, misalnya: teman-teman dekat, atau anggota
keluarga lain.
b)
Menggali
perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya dan perlu diisolasi.
c)
Menjaga
penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan kunjungan teman-teman
terdekatnya, yaitu dengan memberikan klien untuk membersihkan diri dan
merapikan diri.
d)
Meminta
saudara atau teman-temannya untuk sering mengunjungi dan mengajak orang lain
dan membawa buku-buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya.
e.
Kebutuhan
spiritual
a) Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya dan
rencana-rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
b) Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama dalam hal untuk
memenuhi kebutuhan spiritual.
c) Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan kebutuhan spiritual
sebatas kemampuannya.
2.2.7 Pertimbangan khusus dalam perawatan
:
a. Tahap I ( penolakan dan rasa
kesendirian ), mengenal atau mengetahui bahwa proses ini umumnya terjadi karena
menyadari akan datangnya kematian atau ancaman maut.
a) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mempergunakan caranya
sendiri dalam menghadapi kematian sejauh tidak merusak.
b) Memfasilitasi klien lanjut usia dalam menghadapi kematian. Luangkan
waktu 10 menit sehari, baik dengan bercakap – cakap maupun sekedar bersamanya.
b. Tahap II ( marah ), mengenal atau
memahami tingkah laku serta tanda – tandanya.
a) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mengungkapkan
kemarahannya dengan kata – kata.
b) Ingat, bahwa dalam benaknya bergejolak pertanyaan, “ Mengapa hal ini
terjadi pada diriku ? “.
c) Sering kali perasaan ini dialihkan kepada orang lain atau anda sebagai
cara klien lanjut usia bertingkah laku.
c. Tahap III ( tawar – menawar ), menggambarkan
proses seseorang yang berusaha menawar waktu.
a) Klien lanjut usia akan mempergunakan ungkapan, seperti seandainya “
Saya...“
b) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk menghadapi kematian
dengan tawar – menawar.
c) Tanyakan kepentingan yang masih ia inginkan. Cara demikian dapat
menunjukan kemampuan perawat untuk mendengarkan ungkapan perasaanya.
d. Tahap IV ( depresi ), lanjut usia
memahami bahwa tidak mungkin menolak lagi kematian yang tidak dapat dihindarkan
itu, dan kini kesedihan akan kematian itu sudah membayanginya.
a) Jangan mencoba menyenangkan klien lanjut usia. Ingat bahwa tindakan ini
sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan petugas. Jangan takut menyaksikan klien
lanjut usia atau keluarga menangis. Hal ini merupakan ungkapan pengekspresian
kesedihanya. Anda boleh saja ikut berduka cita.
b) “ Apakah saya akan mati ? “ Sebab sebetulnya pertanyaan klien lanjut
usia tersebut hanya sekadar mengisi dan menghabiskan waktu untuk
memperbincangkan perasaanya, bukannya mencari jawaban. Biasanya klien lanjut
usia menanyakan sesuatu, ia sebenarnya sudah tahu jawabanya. Apakah anda merasa
akan meninggal dunia.
e. Tahap V, membedakan antara sikap
menerima kematian dan penyerahan terhadap kematian yang akan terjadi. Sikap
menerima : klien lanjut usia telah menerima, dapat mengatakan bahwa kematian
akan tiba dan ia tak boleh menolak. Sikap menyerah : sebenarnya klien lanjut
usia tidak menghendaki kematian ini terjadi, tetapi ia tahu bahwa hal itu akan
terjadi. Klien lanjut usia tidak merasa tenang dan damai.
a) Luangkan waktu untuk klien lanjut
usia ( mungkin beberapa kali dalam sehari ). Sikap keluarga akan berbeda dengan
sikap klieen lanjut usia. Oleh karena itu, sediakan waktu untuk mendiskusiakan
perasaan mereka.
b) Beri kesempatan kepada klien lanjut
usia untuk mengarahkan perhatianya sebanyak mungkin. Tindakan ini akan memberi
ketenangan dan perasan aman.
2.2.8 Hak asasi pasien menjelang ajal
Lanjut usia berhak untuk
diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai ia mati. Lanjut usia:
1. Berhak untuk tetap merasa mempunyai
harapan, meskipun fokusnya dapat saja berubah.
2. Berhak untuk dirawat oleh mereka
yang dapat menghidupkan terus harapan, walaupun dapat berubah.
3. Berhak untuk merasakan perasaan dan
emosi mengenai kematian yang sudah mendekat dengan caranya sendiri.
4. Berhak untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan mengenai perawatannya.
5. Berhak untuk mengharapkan terus
mendapat perhatian medis dan perawatan, walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan memberi rasa nyaman.
6. Berhak untuk tidak mati dalam
kesepian.
7. Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri.
8. Berhak untuk memperoleh jawaban yang
jujur atas pertanyaan.
9. Berhak untuk tidak ditipu.
10. Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalam menerima
kematian.
11. Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat.
12. Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak di hakimi atas
keputusan yang mungkin saja bertentangan dengan orang lain.
13. Membicarakan dan memperluas pengalaman keagamaan dan kerohanian.
14. Berhak untuk mengharapkan bahwa kesucian tubuh manusia akan dihormati
sesudah mati.
2.3 Perawatan paliatif pada lanjut usia menjelang ajal
2.3.1 Pengertian
Dalam
memberi asuhan keperawtan kepada lanjut usia, yang menjadi objek adalah pasien
lanjut usia (core), disusul dengan aspek pengobatan medis (cure), dan yang
terakhir, perawatan dalam arti yang luas (care). Core, cure, dan care merupakan
tiga aspek yang saling berkaitan dan saling berpengaruh. Kapanpun ajal
menjemput, semua arang harus siap. Namun ternyata, semua orang, termasuk lanjut
usia, akan merasa syok berat saat dokter memvonis bahwa penyakit yang dideritanya tidak bisa di sembuhkan atau tidak ada
harapan untuk sembuh. Pada kondisi ketika lanjut usia menderita sakit yang
telah berada pada stadium lanjut dan “cure” sudah tidak menjadi bagian yang
dominan, “care” menjadi bagian yang paling berperan. Salah satu alternatif
adalah perawatan paliatif.
Perawatan
paliatif adalah semua tindakan aktif untuk meringankan beban penderita,
terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Yang dimaksud dengan tindakan aktif
antara lain mengurangi /menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain serta
memperbaiki aspek psikologis, social, dan spiritual.
1. Tujuan perawatan paliatif.
Tujuan
perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup maksimal bagi si sakit
(lanjut usia) dan keluarganya. Perawatan paliatif tidak hanya di berikan kepada
lanjut usia yang menjelang akhir hayatnya, tetapi juga diberikan segera setelah
di diangnosa oleh dokter bahwa lanjut usia tersebut menderita penyakit yang
tidak ada harapan untuk sembuh (mis, menderita kanker). Sebagaian besar pasien
lanjut usia, pada suatu waktu akan menghadapi keadaan yang disebut “stadium
paliatif”, yaitu kondisi ketika pengobatan sudah tidak dapat menghasilkan
kesembuhan. Biasanya dokter memvonis pasien lanjut usia yang menderita penyakit
yang mematikan (mis, kanker, stroke, AIDS) juga mengalami penderitaan fisik,
psikologis social, kultural, dan spiritual.
Dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang medis dan keperawatan,
memungkinkan di upayakan berbagai tindakan dan pelayanan yang dapat mengurangi
penderitaan pasien lanjut usia, sehingga kualitas hidup di akhir kehidupannya
tetap baik, tenang dan mengakhiri hayatnya dalam keadaan iman dan kematian yang
nyman. Diperlukan pendekatan holistik yang dapat memperbaiki kualitas hidup
klien lanjut usia. Kualitas hidup adalah bebas dari segla sesuatu yang
menimbulkan gejala, nyeri, dan perasaan takut sehingga lebih menekankan
rehabilitasi daripada pengobatan agar dapat menikmati kesenangan selama akhir
hidupnya. Sesuai arti harfiahnya, paliatif bersifat meringankan, bukan
menyembuhkan. Jadi, perawtan paliatif diperlukan untuk meningkatkan kualitas
hidup dengan menumbuhkan semangatdan motivasi. Perawatan ini merupakan
pelayanan yang aktif dan menyeluruh yang dilakukan oleh satu tim dari berbagai
displin ilmu.
2.3.2 Tim perawatan paliatif
Tim
perawatan paliatif terdiri atas tim terintegrasi, antara lain dokter, perawat,
psikolog, ahli fisioterapi, pekerja social medis, ahli gizi, rohaniawan, dan
relawan. Perlu diingat bahwa tujuan perawatan paliatif adalah mengurangi beban
penderitaan lanjut usia. Penderitaan terjadi bila ada salah satu apek yang
tidak selaras, baik aspek fisik maupun psikis, peran dalam keluarga, masa depan
yang tidak jelas, gangguan kemampuan untuk menolong diri, dan sebagainya.
Untuk
memahami dna mengatasi hal tersebut, peran tim interdisplin menjadi sangat
penting / dominan. DR. Siti Annisa Nuhoni, Sp, RM dalam makalahnya, Konsep
perawatan paliatif pada pasien kanker, mengatakan bahwa apa yang disebut
sebagai gambaran klinis pasien tidak hanya gambaran seseorang yag sakit
terbaring di tempat tidur , tetapi merupakan cerminan pasien sebagai individu
dengan lingkungannya, keadaan rumah/tempat tinggalnya ,
pekerjaannya,teman,hobi,kesedihan, dan ketakutan.
Keberhasilan
keperawatan paliatif begantung pada kerjasama yang elektif dan pendekatan
interdisplin antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, rohaniawan, /pemuka
agama/relawan/dan anggota pelayanan lain sesuai kebutuhan.
Tim ini tidak mudah tanpa adanya
semangat kebersamaan dalam memberi bantuan kepada pasien lanjut usia. Pemberi
asuhan keperawatan pada pasien harus bekerjasama secara profesional,ihlas, dan
dengan hati yang bersih. Perawatan paliatif lanjut usia bukan untuk intervensi
yang bersifat kritis. Perawatan paliatif adalah perawatan yang
terencana.walaupun dapat terjadi kondisi kritis dan kedaruratan medis yang
tidak terduga, hal ini dapat diantisipasi, bahkan dapat dicegah melalui ikatan
kerja tim yang solid dan kuat .
Bagan
kepemimpinan pada perawatan paliatif tidak berbentuk kerucut , melainkan
berbntuk lingkaran dengaan pasien sebagai titik sentral . kunci keberhasilan
kerja interdisiplin bergantung pada tanggung jawab setiap anggota tim , sesuai
dengan kemahiran dan spesialisasinya, sehingga setiap kali pemimpin berganti,
tugas masing-masing tidak akan terganggu.
2.4 Asuhan
keperawatan lansia menghadapi kematian.
2.4.1 Pengkajian
Pengkajian
ialah tahap pertama proses keperawatan. Sebelum perawat dapat merencanakan
asuhan keperawatan pada pasien yang tidak ada harapan sembuh, perawat harus
mengidentifikasi dan menetapkan masalah pasien terlebih dahulu. Oleh karena
itu, tahap ini meliputi pengumpulan data, analisis data mengenai status
kesehatan, dan berakhir dengan penegakan diagnosis keperawatan, yaitu
pernyataan tentang masalah pasien yang dapat diintervensi.
Tujuan
pengkajian adalah memberi gambaran yang terus – menerus mengenai kesehatan
pasien yang memungkinkan tim perawatan untuk merencanakan asuhan keperawatannya
secara perseorangan.Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal pasien
dan keluarganya. Siapa pasien itu dan bagimana kondisinya akan membahayakan
jiwanya. Rencana pengobatan apa yang telah dilaksanakan ? Tindakan apa saja
yang telah diberikan ? Adakah bukti mengenai pengetahuannya, prognosisnya, dan
pada tahap proses kematian yang mana pasien berada ? Apakah ia menderita rasa
nyeri ? Apkah anggota keluarganya mengetahui prognosisnya dan bagaiman reaksi
mereka ? Filsafat apa yang dianut oleh pasien dan keluarganya mengenai hidup
dan mati. Pengkajian keadaan, kebutuhan, dan masalah kesehatan / keperawatan
pasien khususnya. Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara lain apakah pasien
tabah terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari tentang keadaannya ?
1. Perasaan takut. Kebanyakan pasien merasa takut
terhadap rasa nyeri yang tidak terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan
dengan keadaan sakit terminal, terutama apabila keadaan itu disebabkan oleh
penyakit yang ganas. Perawat harus menggunakan pertimbangan yang sehat apabila
sedang merawat orang sakit terminal. Perawat harus mengendalikan rasa nyeri
pasien dengan cara yang tepat.
Perasaan takut yang mungkin takut terhadap rasa nyeri, walaupun secara
teori, nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat penghilang rasa nyeri, seperti
aspirin, dehidrokodein, dan dektromoramid. Apibila orang berbicara tentang
perasaan takut mereka terhadap maut, respon mereka secara tipikal mencakup
perasaan takut tentang hal yang tidak jelas, takut meninggalkan orang yang
dicintai, kehilangan martabat, urusan yang belum selesai, dan sebagainya.
Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang akan mengalami
kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini, pada umumnya orang merasa
takut dan cemas. Ketakutan dan kecemasan terhadap kematian ini dapat membuat
pasien tegang an stress.
2. Emosi. Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang
kematian, antara lain mencela dan mudah marah.
3. Tanda vital. Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin
pada suhu badan, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Mekanisme
fisiologis yang mengaturnya berkaitan satu sama lain. Setiap perubahan yang
berlainan dengan keadaan yang normal dianggap sebagai indikasi yang penting
untuk mengenali keadaan kesehatan seseorang.
4. Kesadaran. Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal
sebagai awas waspada, yang merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat, didengar, dialami, dan
perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba, getar, gerak, gerak tekan, dan sikap,
bersifat adekuat, yaitu tepat dan sesuai ( Mahar Mardjono dan P. Sidharta, 1981
).
5. Fungsi tubuh. Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap
organ mempunyai fungsi khusus.
2.4.2 Diagnosa.
Berikut tabel diagnosis keperawatan:
|
Data
|
Diagnosis Keperawatan
|
|
Status sistem pernapasan
1. Sesak napas
2. Batuk
3. Slem
Sistem pembuluh darah
1. Tekanan darah
2. Denyut tubuh
3. Suhu tubuh
Pernapasan
1. Warna wajah
2. Kesadaran
Sistem pencernaan
1. Susah menelan
2. Mual, muntah
3. Perih, tidak nafsu makan
4. Diare/obstipasi
5. Kembung, melena
6. Mules
Sistem perkemihan
1. Bagaimana produksi urinenya ?
2. Berapa jumlahnya ?
Persendian dan otot (pergerakan)
1. Kekauan sendi dan otot
Kegiatan sehari-hari
2. Manddi, gosok gigi
3. Ganti pakaian
4. Defekasi dan berkemih mandiri atau
bergantung penuh kepada orang lain
Pola tidir dan istrahat
1. Bagaimana istirahatnya ?
2. Tidur malam ?
3. Hal-hal yang dirasa menganggu
tidur?
Cemas memikirkan penyakit dan
keluarga yang ada dirumah
|
Gangguan pemenuhan kebutuhan
oksigen yang berhubungan dengan adanya penyumbatan slem yang ditandai dengan
sesak napas
Gangguan kenyamanan yang
berhubungan dengan batuk, panas tinggi yang ditandai pasien gelisah
Gangguan kesadaran yang
berhubungan dengan dampak patologis degan manifestasi apatis/koma
Perubahan nutrisi sebagai dampak
patologis dengan menampakkan makanan yang dihabiskan sering tidak habis.
Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit yang berhubungan dengan muntah dan diare yang ditandai dengan
turgor jelek, mata cekung, suhu naik.
Gangguan eliminasi alvi yang
berhubungan dengan obstipasi yang ditandai beberapa hari pasien tidak
defekasi
Gangguan eliminasi urine yang
berhubungan dengan produksi urinenya, yang ditandai dengan jumalah urinenya
berapa cc.
Keterbatasan gerakan yang
berhubungan dengan tirah baring lama yang ditandai dengan kaku sendi/otot
Perubahan dalam merawat diri
sendiri sebagai dampak patologis
Gangguan psikologis yang
berhubungan dengan perubahan pola seksualitas yang ditandai susah tidur,
pucat, murung.
Cemas yang berhubungan dengan
memikirkan penyakitnya dan keluarga
|
2.3.3 Intervensi
Perencanaan
adalah langkah kedua dalam proses keperawatan. Termasuk penentuan apa yang
dapat dilakukan perawat terhadap pasien dan pemilihan intervensi keperawatan
yang tepat.
|
DK
|
Tujuan
|
Rencana Intervensi
|
Evaluasi
|
|
Gangguan kebutuhan oksigen
Gangguan kenyamanan
Perubahan nutrisi
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Gangguan eleminasi alvi
Gangguan eliminasi urine
Keterbatasan pergerakan
Perubahan perawatan diri
Gangguan pola tidur
Kecemasan
|
Kebutuhan oksigen terpenuhi
Rasa nyaman terpenuhi
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Keseimbangan cairan dan elektrolit
terpenuhi
Kebutuhan eliminasi (defekasi)
terpenuhi
Kebutuhan eliminasi (berkemih)
terpenuhi
Kebutuhan pergerakan (sendi dan
otot) terpenuhi
Kebutuhan merawat diri terpenuhi
Kebutuhan istirahat dan tidur
terpenuhi
Rasa cemas hilang/berkurang
|
-
Menciptakan
lingkungan yang sehat.
-
Mengamati
dan mengkaji keadaan pernapasan pasien
-
Membersihkan
slem
-
Melatih
pasien untuk pernapasan
-
Mengupayakan penurunan suhu tubuh
-
Memberi
obat sesuai dengan program
-
Mempertahankan
kebutuhan nutrisi yang cukup
-
Mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit
-
Mempertahankan
kelancaran defekasi
-
Mempertahankan
kelancaran berkemih
-
Memenuhi
kebutuhan gerak (mobilisasi)
-
Membantu memenuhi kebutuhan
merawat diri
-
Ciptakan
komunikasi yang terapeutik, dengan member.
penjelasan kepada pasien tentang pentingnya
istirahat terhadap tubuh
-
Menciptakan
lingkungan yang terapeutik.
|
Kebutuhan oksigen dapat terpenuhi
Rasa nyaman terpenuhi
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kebutuhan cairan dan elektrolit
terpenuhi
Kebutuhan eliminasi (defekasi)
terpenuhi
Kebutuhan eliminasi (berkemih)
dapat terpenuhi
Kebutuhan pergerakan dapat
terpenuhi
Perawatan diri dapat terpenuhi
Kebutuhan istirahta dan tidur
dapat trepenuhi
-
Tak ada
keluhan, dapat tidur
-
Ekspresi bangun
tidur ceria, segar bugar
Rasa cemas dapat hilang /
berkurang
|
BAB 4
PENUTUP
4.1. Simpulan
Kematian adalah penghentian permanen
semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari kehidupan manusia(Buku Ajar
Keperawatan Gerontik : 435).
Pengertian kematian / mati adalah
apabila seseorang tidak teraba lagi denyut nadinya tidak bernafas selama
beberapa menit dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan
otak.(Nugroho: 153).
4.2. Saran .
Adapun
saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa.
1. Dalam
membuat makalah, kelompok diharapkan dapat menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia
mennjelang ajal.
2. Proses penuaan yang dialami dapat menimbulkan berbagai
masalah fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan keluarga. Oleh karena itu
perawat sebaiknya meningkatkan pendekatan-pendekatan melalui komunikasi
terapeutik, sehingga akan tercipta lingkungan yang nyaman dan kerja sama yang
baik dalam memberikan asuhan keperawatan gerontik.
3. Perawat sebagai anggota tim kesehatan yang paling
banyak berhubungan dengan pasien dituntut meningkatkan secara terus menerus
dalam hal pemberian informasi dan pendidikan kaesehatan sesuai dengan latar
belakang pasien dan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
.
Maryam,R.Siti, dkk.2008. Mengenal
Usia Lanjut dan Perawatannya.Jakarta:Salemba Medika.
Mass,Meridean.2011.Asuhan
Keperawatan Geriatrik.EGC:Jakarta.
Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik.
Jakarta: EGC.
Stanley,mickey.2006.Buku Ajar
Keperawatan Gerotik edisi 2.EGC:Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar